06 Mei 2019

Provinsi Kalsel Adakan Sosialisasi Faktor Risiko PTM dan Pembekalan Kader untuk 15 Kecamatan Percontohan

Provinsi Kalsel  Adakan Sosialisasi Faktor Risiko  PTM  dan Pembekalan Kader untuk 15 Kecamatan Percontohan

Sosialisasi Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular dan Pembekalan untuk Kader 5 Desa terpilih pada 15 Kecamatan percontohan oleh Dinkes Provinsi Kalimantan Selatan bertempat di Kota Banjarmasin, Februari - Maret 2019

Oleh : Kusumorini Kalsel

Hasil Riskesdas tahun 2018 menunjukan angka prevalensi hipertensi pada penduduk Provinsi  Kalsel yang berusia di atas 18 tahun adalah 44,13 % tertinggi di Indonesia , kebiasaan mengonsumsi  makanan/minuman berisiko seperti  manis, asin dan berlemak , berpengawet, dibakar, daging dan gorengan , kurang sayur dan buah juga kurang aktifitas fisik disinyalir menjadi penyebabnya. Dinkes Prov. Kalimantan Selatan memandang perlu ditingkatkan sosialisasi  faktor risiko PTM pada masyarakat.

Penyakit tidak menular sudah menjadi masalah kesehatan di Provinsi Kalimantan Selatan, hal ini ditunjukkan dengan semakin meningkatnya kasus penyakit tidak menular (PTM) antara lain Gagal ginjal, Jantung koroner, Hipertensi, Kanker, Diabetes melitus, kecelakaan dan sebagainya.

Sebagai upaya pencegahan dan pengendalian terhadap penyakit tidak menular tersebut, antara lain dengan mengembangkan konsep Posbindu PTM. Pada Posbindu PTM dilakukan kegiatan skrining yang mencakup penyakit jantung dan pembuluh darah dan beberapa masalah PTM, diantaranya kanker leher Rahim dan payudara, penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) dan gangguan akibat kecelakaan.  

Program PTM pada tahun 2019 ini bertujuan mencegah dan mengendalikan faktor risiko PTM untuk menurunkan kejadian penyakit tidak menular. Adapun indikator kinerja kegiatan Program P2PTM & Keswa adalah :

  • Jumlah wanita usia 30-50 tahun yg dideteksi KLR dengan metode IVA sebesar 20%;
  • Prevalensi tekanan darah tinggi sebesar 23,79 %;
  • Mempertahankan prevalensi obesitas sebesar 15,4%;
  • Prevalensi merokok pada penduduk usia < 18 tahun sebesar 5,6%;
  • Persentase Puskesmas Yang Melaksanakan PTM Terpadu sebesar 50% ;
  • persentase Fasyankes IPWL pecandu narkotika yg aktif sebesar 50% ;
  • Jml Kab/Kota yg menyelenggarakan upaya pencegahan & pengendalian masalah penyalah gunaan Napza di IPWL sebesar 50%; dan
  • Jumlah Kabupaten/Kota yang memiliki Puskesmas yang menyelengarakan upaya kesehatan jiwa sebesar 50%.

Selain merokok, pola makan yang tidak sehat memperburuk kesehatan masyarakat di Kalimantan Selatan.  Makanan khas banua, yang menjadi favorit segala kalangan, tidak mengenal strata ekonomi maupun social antara lain : mandai, iwak karing, samu’, telang asam manis, paliat, katupat kandangan, gangan balamak, dan lain sebagainya yang justru menjadi sumber faktor risiko penyakit tidak menular karena mengandung tinggi gula, garam, dan lemak.

Modernisasi dan perbaikan ekonomi yang ada, dimana semua mudah dijangkau menggunakan fasilitas seperti mobil atau kendaraan roda dua  mengakibatkan  kurangnya aktivitas fisik masayarakat . 30% masyarakat tidak menyadari bahwa dirinya memiliki atau menderita penyakit tidak menular baik hipertensi, diabetes dll.  Untuk itu perlu disosialisasikan dan lebih dikampanyekan dan diviralkan kembali gaya hidup CERDIK agar  masyarakat mau memeriksakan kesehatannya. Diharapkan setelah teredukasi mengenai pentingnya deteksi dini faktor  risiko PTM/pemeriksaan kesehatan secara rutin  maka masyarakat menjadi memahami bagaimana cara menjaga kondisi tubuh agar terhindar dari penyakit tidak menular, dan dilakukan pengobatan agar  penyakit  tidak menular yang disandang tidak menimbulkan kesakitan atau bahkan kematian.  

Faktor risiko ini bisa dikendalikan karena itu perlu diilakukan deteksi  dini dan intervensi secara dini agar tidak berlanjut menjadi fase akhir (komplikasi) seperti terjadinya Penyakit Jantung Koroner, Stroke, DM, Ginjal kronik, Kanker, PPOK yang akan memberikan beban biaya kesehatan sangat mahal baik perorangan maupun negara. Untuk itu pengendalian PTM lebih difokuskan pada faktor risiko perilaku dan penyakit antara. Namun fase akhir penyakit tetap menjadi perhatian penanggulangan.

Guna mencapai target tersebut di atas, maka Dines Kesehatan Provinsi - melakukan sosialisasi  faktor risiko penyakit tidak menular. Pada tahun 2019 Provinsi Kalimantan Selatan mengadakan kegiatan ini di 15 kecamatan percontohan yang dimulai dengan sosialisasi, kemudian akan dilanjutkan dengan pembekalan bagi kader di 5 desa terpilih di Kecamatan-Kecamatan tersebut.  

Rangkaian kegiatan berikutnya adalah pemeriksaan dini faktor risiko oleh kader yang sudah dilatih kepada 100 orang di desa terpilih tersebut sebanyak dua kali sebulan dalam rentang waktu 6 bulan.  Diharapkan kegiatan tidak berhenti disini saja, tapi terus dikembangkan ke seluruh kecamatan lainnya di Propinsi Kalimantan Selatan. 

Tujuan sosialisasi faktor risiko penyakit tidak menular adalah menyampaikan kepada aparat pemerintahan di kecamatan dan desa, PKK, lintas sektor, organisasi masyarakat, dan masyarakat akan pentingnya deteksi dini faktor risiko, agar bisa mengurangi kejadian kesakitan atau kematian akibat penyakit tidak menular. 

Berikut foto dokumentasi kegiatan sosialisasi FR Risiko PTM dan Pembekalan Kader :

 

Sosialisasi FR Risiko PTM di Barito Kuala



Sosialisasi FR Risiko PTM di Hulu Sungai Tengah 

Sosialisasi FR Risiko PTM di Kabupaten Balangan

 


Artikel Sebelumnya
Rame Rame Jadi Kader Posbindu Yang Cerdik
Artikel Selanjutnya
Pembekalan Kader Dalam Rangka Deteksi Dini Fr Ptm Di Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan