05 Februari 2017

Deteksi Dini Faktor Risiko PTM pada Jemaah Haji

Deteksi Dini Faktor Risiko PTM pada Jemaah Haji
Oleh : aulia

Ibadah haji merupakan ibadah yang dilakukan umat Islam setiap tahun. Minat masyarakat Indonesia melaksanakan ibadah haji sangat tinggi, sehingga melampaui batas kuota. Kematian pada jemaah haji disebabkan oleh penyakit jantung, paru-paru, DM dan Stroke. Hal inilah yang melatarbelakangi upaya pemerintah melakukan deteksi dini faktor risiko PTM pada jemaah haji. Kondisi kesehatan jemaah haji merupakan modal dan sangat memengaruhi perjalanan dan kelancaran ibadah haji mulai dari tanah air, embarkasi, saat penerbangan, saat di Arab Saudi maupun saat kepulangan kembali ke tanah air. Terdapat beberapa kondisi atau penyakit yang akan bertambah berat selama perjalanan udara atau penyakit kardiovaskular yang belum terkontrol, penyakit saluran pernafasan sedang dan berat, kekurangan darah (HB < 8), hamil, demensia, dan gangguan jiwa berat yang belum terkontrol. Waktu daftar tunggu yang panjang perlu dimanfaatkan agar jemaah dapat mempersiapkan diri baik fisik dan mental, sehingga memenuhi kriteria istitho'ah menurut perspektif kesehatan. Data menunjukkan hampir 70% jemaah haji mendapatkan bimbingan manasik ibadah haji sebelum berangkat yang dilakukan oleh kelompok pengajian, kelompok bimbingan ibadah haji, travel haji dan umroh, serta kelompok bimbingan lainnya. Pemerintah sebagai penyelenggara kesehatan haji melakukan pembinaan, pelayanan dan perlindungan dalam rangka meningkatkan kesehatan jemaah haji sebelum berangkat, selama menunaikan ibadah haji dan sampai kembali ke tanah air. Pembinaan kesehatan jemaah haji melalui posbindu PTM JH dilakukan sejak awal mendaftar dengan tujuan menjaga agar jemaah haji tetap dalam keadaan sehat, terdeteksi dan terkendali faktor risiko PTM sedini mungkin. Pemeriksaan, perawatan dan pemeliharaan kesehatan lebih terarah denga harapan diturunkan angka kesakitan dan kematian jemaah haji akibat PTM dapat tercapai.

Bentuk Kegiatan

Bentuk kegiatan Posbindu PTM-JH meliputi:

1. Penggalian informasi faktor risiko dari jemaah haji dengan wawancara sederhana tentang riwayat PTM pada jemaah haji dan keluarga, aktivitas fisik, merokok, konsumsi sayur dan buah, potensi terjadinya cidera, stress, gangguan jiwa berat, demensia dan lain-lain terkiat dengan terjadinya PTM.

2. Pengukuran antropometri meliputi pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar perut, Indeks Masasa Tubuh (IMT)

3. Pemeriksaan tekanan darah, gula darah, kolesterol total dan arus puncak ekspirasi (APE) dilakukan oleh tenaga kesehatan.

4. Identifikasi faktor risiko dan konseling sesuai dengan faktor risiko yang ditemukan seperti upaya seperti berhenti merokok, diet dengan gizi seimbang, memperbanyak minum air putih, kepatuhan minum obat, melakukan aktivitas fisik secara benar, terukur dan teratur, manajemen stres. Kegiatan ini dilakukan oleh tenaga kesehatan atau tenaga pelaksanaan Posbindu PTM-JH terlatih.

5. Melakukan rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat pertama di wilayahnya termasuk upaya respon cepat sederhana dalam penanganan pra-perujukan.


Artikel Sebelumnya
Berenang, Baik Untuk Orang Dengan Asma
Artikel Selanjutnya
Hindari Makanan Tinggi Kolesterol Ini

Upcoming Agenda
04 Maret 2021

Hari Obesitas Sedunia 2021

03 Maret 2021

Seminar Kesehatan : Peduli Kesehatan Pendengaran Untuk Semua

25 Februari 2021

Seminar Kesehatan: Apa yang harus dilakukan oleh Penyandang Kanker di masa Pandemi?

03 Maret 2021

Hari Pendengaran Sedunia 2021

Selengkapnya
Newsletter

Tetap terhubung dengan kami untuk Update info terbaru agenda-agenda PTM Kementerian Kesehatan Indonesia