25 Maret 2019

Begini cara sederhana deteksi pendengaran bayi baru lahir

Begini cara sederhana  deteksi pendengaran bayi baru lahir

dr. Hably Warganegara, Sp.THT-KL (wakil ketua Komnas PGPKT); dr. Cut Putri Arianie, MH.Kes(Direktur P2PTM); dr. Soekirman Soekin, Sp.THT-KL (Ketua PP PERHATI-KL); Indra Rizon (Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat) pada saat temu media terkait kesehatan pendengaran, Jumat 22 Maret 2019 di gedung Adhyatma Kemenkes. (Foto Amelia Pasaribu)

Oleh : P2PTM Kemenkes RI

Gangguan pendengaran atau biasa disebut dengan tuli, merupakan penyakit yang cukup mengganggu kehidupan seseorang. Penyakit ini memang tidak menyebabkan kematian pada penggunanya, namun penderitanya akan kesulitan dalam melakukan aktivitas karena keterbatasannya dalam mendengar selain itu penyakit ini bisa menyebabkan permasalahan mental bagi penderitanya.

Tuli sendiri terdiri dari beberapa macam, salah satunya adalah tuli kongenital. Tuli jenis ini bisa terjadi pada seorang bayi sejak lahir. Ketulian ini sendiri bisa diakibatkan karena bawaan seperti riwayat hamil dan lahir. Tak hanya itu, kecacatan ini juga bisa disebabkan karena adanya infeksi.

Wakil Ketua Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (PGPKT) dr. Hably Warganegara, Sp.THT-KL mengatakan gangguan pendengaran akan mengakibatkan gangguan komunikasi, psikologi dan sosial. Hal yang paling sulit ketika penyakit tuli ini menimpa anak yang masih belum dapat berbicara, tentunya akan berpotensi menimbulkan masalah lain seperti gangguan Telinga, Hidung, Tenggorokan (THT) dan psikologi.

“Tuli kongenital paling bahaya, jika tidak ditolong kemungkinan terjadi gangguan perkembangan kognitif, psikologi, dan sosial,” kata dr. Hably, sebagaimana diberitakan Okezone dalam pertemuan di Gedung Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Kemenkes RI, Jumat 22 Maret 2019.

Tentunya tuli kongenital ini akan membuat seorang anak mengalami gangguan perkembangan kognitif, psikologi dan sosial. Bahkan seorang anak bisa mengalami gangguan dalam proses berbicara, kemampuan berbahasa, komunikasi, kesulitan saat belajar yang bakal mempengaruhi kepandaiannya.

"Tentu saja seorang anak akan kesulitan untuk belajar, karena mereka tidak bisa mendengar dengan baik. Akibatnya mereka akan mengalami keterlambatan dalam belajar dibandingkan dengan anak seusianya. Keterlambatan inilah yang akan mempengaruhi kecerdasan seorang anak," lanjutnya.

Oleh sebab itu, dr Hably memberikan beberapa tips yang bisa dilakukan oleh masyarakat untuk mendeteksi pendengaran pada bayi dengan cara yang sederhana. Menurutnya, meski bayi belum bisa berbicara, namun ia sudah mampu merespon dan menujukkan refleks saat mendengar suara keras.

"Cara observasi bayi terhadap suara dapat dilihat dari refleks bayi ketika mendengar suara keras atau disebut refleks moro. Refleks moro itu kalau bayi tidak memakai bedong, tangannya seperti mau meluk, kaget. Ada juga tanda lain berupa auropalpebra atau mengejapkan mata, grimacing mengerutkan wajah, berhenti menyusu atau mengisap lebih cepat, bernapas lebih cepat, dan ritme jantung bertambah cepat," tambahnya.

Dokter Hably mengatakan bahwa orangtua juga harus menggunakan trik saat hendak mengetes pendengaran bayinya. Triknya adalah dengan memberikan rangsangan suara dari belakang bayi. Jika seorang bayi tidak merespon rangsangan suara yang Anda berikan dari bagian belakang, maka segera periksakan kondisi anak tersebut ke fasilitas terdekat.

“Jangan dites di depan bayi tapi di belakang bayi, biasanya kalau bayi mendengar klakson atau tepuk tangan dari belakang bayi, biasanya dia menunjukkan refleks. Nah kalau refleksnya tidak ada segerakan kontrol ke fasilitas kesehatan untuk diperiksa,” ucap dr. Hably.

Gejala gangguan pendengaran yang terjadi adalah anak belum dapat bicara sesuai usianya. Bahkan berpotensi menimbulkan masalah lain seperti gangguan THT, dan psikologi.Gangguan perkembangan kognitif, psikologi, dan sosial itu akan mengakibatnya terjadi gangguan proses bicara, gangguan perkembangan kemampuan berbahasa, gangguan komunikasi, gangguan proses belajar dan perkembangan kepandaian.

Karena itu, kata dr. Hably, yang perlu diketahui oleh bidan dan masyarakat adalah cara mendeteksi pendengaran bayi secara sederhana. Bayi memang belum bisa berbicara, namun dia bisa menunjukkan refleks jika mendengar suara keras.

Segerakan kontrol ke Puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat untuk diperiksa bila bayi Anda menunjukan refleks seperti di atas saat dilakukan tes sederhana seperti di atas. (Sumber Rokomyanmas ; Okezone)


Artikel Sebelumnya
Menpora Ajak Ribuan Pemuda-pemudi Milenial Dari Seluruh Indonesia Untuk Terus Gelorakan Germas Dengan Tidak Mager (malas Bergerak)
Artikel Selanjutnya
Sering Tak Jelas Dengar Suara Orang Termasuk Tuli